Rabu, 19 Oktober 2011

Sakit Makin Memburuk Karena 6 Kelakuan Ini

Tapi tanpa disadari orang sakit kadang melakukan kesalahan yang membuat rasa sakitnya bertambah parah. Ketahui 6 penyebab rasa sakit yang kian memburuk karena 6 kelakuan ini.
Rasa sakit atau nyeri kronis bisa timbul di pungggung, leher, pinggang atau bagian tubuh lain. Jika hanya dibiarkan saja akan membuat kondisinya memburuk dan lebih sulit diobati.
Dikutip dari HealthMSN, Jumat (29/10/2010) ada 6 perilaku yang membuat rasa sakit tersebut semakin memburuk, yaitu:
1. Membiarkan rasa sakit
Diperkirakan satu dari empat orang akan menunggu setidaknya selama 6 bulan sebelum berobat ke dokter, biasanya dengan cara mengobati dirinya sendiri menggunakan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas.
Padahal jika sakit ini terus diabaikan bisa membuat otot melemah dan sendi mengeras. Usahakan untuk mencari bantuan dokter jika sakit terjadi hampir sebulan, karena pengobatan yang lebih awal akan lebih baik.
2. Mengunjungi berbagai dokter spesialis
Biasanya seseorang ingin rasa sakitnya cepat hilang sehingga akan mengunjungi berbagai dokter spesialis, tapi kondisi ini hanya akan membuang-buang waktu, uang dan menunda pengobatan. Sebaiknya cari tahu dimana pusat dari rasa sakitnya, lalu temukan dokter yang bisa berkoordinasi dengan perawatan lain misalnya mencari orthopedis untuk sakit punggung atau rheumatologis untuk arthritis dan fibrimyalgia.
3. Takut berolahraga atau melakukan aktivitas fisik
Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa latihan dapat mengurangi segala macam rasa sakit. Hal ini karena dapat memperkuat otot dan juga minyak sendi. Selain itu latihan dapat membuat tubuh mengeluarkan endorfin dan meningkatkan suasana hati (mood).
Mulailah dengan berjalan kaki atau melakukan kegiatan low impact lain selama 5-10 menit
setiap hari, jika memungkinkan bisa berenang atau aerobik air terutama dalam air hangat sehingga memudahkan gerakan dan mengurangi kekakuan serta nyeri.
4. Memiliki pemikiran tentang pembedahan
Memiliki pemikiran seperti ini bisa membuat rasa sakit bertambah buruk. Padahal pengobatan untuk rasa sakit atau nyeri yang kronis bisa dilakukan dengan cara lain seperti mengonsumsi obat anti nyeri, melakukan terapi fisik (rehabilitasi) atau olahraga tertentu. Misalnya untuk sakit punggung bisa dilakukan kombinasi ketiganya selama 6 bulan sebelum membahas pilihan operasi.
5. Tidak mau mencoba pengobatan alami
Studi klinis menunjukkan bahwa akupuntur dapat mengurangi rasa sakit osteoartritis, linu di daerah panggul dan nyeri pinggang. Selain itu terapi biasanya juga membantu mempelajari jenis lain seperti relaksasi atau self hypnosis. Satu hal yang harus diperhatikan adalah pilihlah tempat yang terpercaya dan menggunakan alat-alat steril.
6. Mengalami depresi atau stres
Diperkirakan sekitar 54 persen orang dengan nyeri punggung kronis menderita depresi. Hal ini karena kondisi mental seseorang sangat terkait dengan bagaimana tubuh memproses dan memandang rasa sakit. Jika seseorang depresi atau stres akan mempengaruhi kualitas hidup seperti kurang tidur, berat badan menurun serta mengganggu pikiran yang membuat rasa sakit semakin terasa buruk.
(Detikhealth.com)

10 Penyakit Umum yang Dialami Balita

Masa kanak-kanak terutama saat balita (bayi di bawah lima tahun) merupakan masa-masa rentan terkena berbagai macam penyakit. Setidaknya ada 10 gejala penyakit yang biasa atau umum dialami oleh balita.
Tapi terkadang memang tidak mudah memprediksi apa yang terjadi dengan si kecil, karena sebagian besar anak belum bisa mengungkapkan keluhan apa yang dirasakannya. Untuk itu orangtua harus cermat memperhatikan gejala apa yang biasa dialami oleh anak balita.
Seperti dikutip dari buku Your Baby Month by Month karangan Su Laurent dan Peter Reader, Senin (28/6/2010) yang diterbitkan Esensi, ada beberapa gejala yang umum terjadi pada balita dan kemungkinan penyebabnya, yaitu:
1. Batuk-batuk
Penyebab yang paling umum dari kondisi ini kemungkinan selesma, atau dikenal juga sebagai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Selain itu ada juga penyebab lainnya seperti lendir dari hidung yang mengalir ke tenggorokan, asma, bronkiolitis, batuk rejan atau pneumonia.
2. Diare
Balita yang mengalami diare umumnya memiliki kotoran yang encer dan berair. Diare ini bisa disebabkan oleh gastroenteritis, alergi atau tidak bisa menoleransi suatu makanan. Pada bayi di bawah usia 3 tahun (batita) terkadang diare disebabkan oleh sistem pencernaan yang belum sempurna.
3. Sulit bernapas
Gangguan ini umumnya terjadi pada bayi karena saluran udara yang dimilikinya masih kecil. Namun ada juga beberapa kondisi yang bisa menyebabkan bayi sulit bernapas, seperti asma, bronkiolitis atau pneumonia.
4. Sakit telinga
Kondisi ini biasanya disebabkan oleh adanya infeksi pada telinga bagian tengah dan luar. Pada umumnya balita yang mengalami sakit telinga akan sering kali menarik-narik telinganya.
5. Menangis berlebihan
Penyebab medis yang bisa menyebabkan bayi menangis berlebihan adalah kondisi yang mengakibatkan sakit perut, nyeri pada tulang atau adanya infeksi tulang. Secara umum bayi yang sakit cenderung akan diam dan tidak rewel.
6. Demam
Pada umumnya demam merupakan pertanda terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Usaha pertama yang dilakukan jika bayi demam tinggi adalah memberinya obat penurun demam, karena demam yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kejang.
7. Kejang (konvulsi)
Balita yang kejang adalah suatu kondisi menakutkan bagi orangtua. Namun, jika kejang terjadi akibat demam tinggi biasanya jarang berbahaya. Penyebab lain dari balita yang kejang adalah epilepsi dan kejang hari kelima, yaitu kejang tanpa ada alasan yang khusus pada bayi yang baru lahir dalam keadaan sehat.
8. Ruam
Ruam yang timbul pada balita disebabkan oleh banyak hal, seperti penyakit infeksi, alergi, eksim dan juga infeksi kulit.
9. Sakit perut
Terdapat berbagai hal yang bisa memicu sakit perut pada balita, salah satu penyebab yang paling umum adalah sembelit (konstipasi) atau susah buang air besar. Sakit perut yang dialami juga bisa disebabkan oleh gastroenteritis dan juga rasa cemas berlebihan yang dialami si kecil. Jika sakit perutnya tergolong parah, maka segera konsultasikan ke dokter.
10. Muntah
Muntah bisa disebabkan oleh infeksi seperti gastroenteritis, infeksi saluran kemih, keracunan makanan atau masalah struktural misalnya refluks atau stenosis pilorik.
(Detikhealth.com)

10 Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan Paru-paru

Setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri termasuk dalam hal kesehatan paru-paru. Tapi ada 10 pekerjaan yang bisa berisiko dan membahayakan kesehatan paru-paru.
“Sebagian besar jenis penyakit paru-paru akibat pekerjaan bisa dicegah, langkah-langkah sederhana dalam pengendalian bisa mengurangi paparan dan juga risiko,” ujar Philip Harber, MD, profesor dan kepala UCLA Occupational and Environmental Medicine Division, seperti dikutip dari Health, Jumat (21/1/2011).
Berikut ini 10 bidang pekerjaan yang dapat berisiko bagi kesehatan paru-paru seseorang yaitu:
1. Konstruksi

Pekerja bisa menghirup debu dari kegiatan pembongkaran atau renovasi yang berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestos, yaitu suatu penyakit yang menyebabkan jaringan parut dan kaku di paru-paru. Untuk itu diperlukan pakaian pelindung termasuk respirator (masker khusus) saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari rokok.
2. Manufaktur



Pekerja pabrik bisa terkena debu, bahan kimia dan juga gas yang dapat meningkatkan risiko PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Bahan kimia tertentu seperti perasa diacetyl yang digunakan dalam microwave popcorn, pabrik anggur dan makanan bisa menyebabkan penyakit yang merusak yaitu bronchiolitis obliterans. Langkah sederhana seperti memakai masker saat menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya bisa mengurangi risiko.
3. Petugas kesehatan

Diperkirakan sekitar 8-12 persen petugas kesehatan sangat sensitif dengan bubuk yang ada pada sarung tangan lateks, sehingga bisa menyebabkan reaksi asma berat atau memicu timbulnya alergi.
4. Tekstil

Byssinosis atau dikenal dengan nama penyakit paru-paru coklat adalah kondisi yang umum diantara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprai dan pakaian. Ketika kapas dipisahkan akan menciptakan sejumlah debu yang menyebabkan kerusakan aliran udara yang signifikan, partikel ini juga ada dari bahan lain. Untuk menguranginya gunakan masker, meningkatkan ventilasi udara dan menghindari rokok.
5. Bartender

Melayani minuman di sebuah ruangan yang penuh asap rokok menempatkan bartender berisiko tinggi terhadap penyakit paru-paru, terutama jika secara teratur terpapar dan menjadi perokok pasif bertahun-tahun.
6. Pekerja pabrik roti

Pekerjaan ini bisa memicu asma karena berisiko terkena debu tepung yang sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Hal umum lainnya adalah reaksi asma untuk enzim yang digunakan dalam mengubah adonan, serta alergen lain yang sering ditemukan pada tepung.
7. Industri otomotif

Pekerja otomotif khususnya bagian yang memperbaiki body mobil sangat berisiko mengalami asma. Hal ini karena produk cat semprot seperti isocyanate dan polyurethane bisa menimbulkan iritasi kulit, alergi, sesak napas dan menyebabkan kesulitan bernapas yang parah. Penggunaan respirator, sarung tangan, kacamata dan ventilasi yang baik dapat sangat membantu.
8. Pekerja transportasi

Supir truk, angkutan umum dan orang-orang yang bertugas di bagian bongkar muat berisiko terkena PPOK. Kondisi ini akibat seringnya terkena polusi udara dari kendaraan bermotor terutama knalpot diesel.
9. Pertambangan

Para penambang berisiko tinggi terhadap sejumlah penyakit paru-paru seperti PPOK (akibat paparan debu) dan juga silicosis (penyakit bekas luka di paru-paru akibat airbone silica). Sedangkan penambang batu bara berisiko terkena penyakit paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Penyakit ini merupakan investasi jangka panjang, karenanya penggunaan masker yang bisa menyaring debu dengan baik bisa membantu.
10. Petugas pemadam kebakaran

Petugas pemadam kebakaran berisiko menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada di dalam gedung yang terbakar. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko yang sering terjadi setelah api padam. Untuk itu alat pelindung pernapasan harus selalu digunakan pada semua tahap pemadaman kebarakan, termasuk saat petugas menyisir puing-puing untuk memastikan api tidak menyala lagi.
(detikHealth.com)